Mengapa Kartini Begitu Ikonik?
Penulis: Panji bahri
Meskipun banyak pejuang perempuan lain yang memegang senjata (seperti Cut Nyak Dhien atau Martha Christina Tiahahu), Kartini dianggap sebagai pionir emansipasi karena ia berjuang lewat gagasan.
Ia menyadari bahwa penjajahan tidak hanya terjadi secara fisik oleh bangsa asing, tetapi juga secara mental oleh pola pikir kolot bangsa sendiri. Perjuangannya memberikan "peta jalan" bagi pergerakan nasional di kemudian hari melalui jalur literasi dan pemikiran kritis.
Selamat pulang ke rumah sejarah kembali ke akar mengenal asal usul para pendahulu. Pada 21 April setiap tahunnya merupakan salah satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 2 Mei 1964 menjadi momen di mana Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964.
Pendidikan perempuan di Indonesia dimulai pada awal abad ke-20. Saat itu, telah terjadi perubahan-perubahan masyarakat di Indonesia yang diawali dengan perubahan pandangan bumiputera. Pada saat yang sama, gagasan tentang kemajuan mulai tumbuh dan salah satunya tentang pendidikan perempuan. RA Kartini adalah sosok perempuan pertama yang memprakarsai perkumpulan dan memajukan pendidikan perempuan. Dia memulai sebuah sekolah kecil yang mengajarkan baca-tulis, kerajinan tangan, dan memasak.
Konsep emansipasi yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini sering kali disalahpahami hanya sebatas "kebebasan" atau "perlawanan terhadap laki-laki". Padahal, bagi Kartini, emansipasi adalah tentang otonomi intelektual dan hak untuk menentukan nasib sendiri.
seperti yang dikutip dari ‘Celoteh RA Kartini: 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi’ oleh Ahmad Nurcholish (2018). “Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama,” ucap RA Kartini
Sekali lagi Sebuah surat Kartini yang penting untuk dijadikan sebagai alat melihat bagaimana tekad dan komitmennya dalam pendidikan adalah suratnya ke Stella. “Bagi saya, hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya…”(Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).
Hingga masuk ke era milenium dimana buah dari perjuangan RA Kartini setelah indonesia merdeka kesempatan untuk meraih cita-cita terbuka lebar hingga mengantarkan perempuan indonesia ke panggung dunia seperti Presiden perempuan pertama indonesia Yaitu Megawati Soekarno dan Perempuan pertama indonesia yang menjadi Direktur Pelaksana dan Kepala Operasional Sri Mulyani Indrawati Bank Dunia (World Bank) Mengutip dari situs world bank blogs. Sebelum bergabung dengan Bank Dunia pada Juni 2010, ia menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia selain sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Jabatan sebelumnya termasuk kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, direktur eksekutif di Dana Moneter Internasional, anggota fakultas di Universitas Indonesia, dan profesor tamu di Andrew Young School of Public Policy di Georgia State University. Indrawati memegang gelar doktor di bidang ekonomi dari Universitas Illinois dan gelar sarjana seni di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia.
Sekali lagi satu catatan menarik Emansipasi versi Kartini tidak pernah bertujuan untuk membuat perempuan meninggalkan kodratnya atau melupakan budayanya, melainkan agar perempuan diperlakukan sebagai manusia yang memiliki akal dan perasaan yang sama berharganya dengan laki-laki.
Kendari demikian kita sebagai generasi yang hidup pasca reformasi 1998 masih banyak tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk saling jaga saling peduli terhadap perempuan-perempuan indonesia yang masih banyak hidup dalam keterbatasan akses pendidikan seperti di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yaitu wilayah di Indonesia yang pembangunan, infrastruktur, dan Sumber Daya Manusianya masih rendah dibandingkan daerah lain, sekaligus berbatasan dengan negara tetangga. Umumnya terletak di wilayah perbatasan, Papua menjadi provinsi dengan jumlah daerah 3T terbanyak.
semoga sila ke 5 keadilan sosial bagi rakyat indonesia tidak menjadi anak yatim yang telah kehilangan perhatiannya. Melalui kesadaran berwarganegara. Bangsa yang memiliki prinsip Tepo Seliro dalam bahasa jawa yang bila diartikan ke bahasa indonesia yaitu kearifan lokal Jawa yang berarti tenggang rasa atau kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Ini adalah sikap empati, menghormati, dan menjaga perasaan orang lain untuk menjaga harmoni sosial. Dengan program pemerintah khususnya melalui kementerian pendidikan yang telah membagikan laptop merah putih gratis serta layar datar interaktif berharap daya serap siswa-siswi dapat mengikuti kemajuan zaman di era internet of things maupun komputasi cloud.
0 Komentar